Lagu Jiwa Tua
Aku pernah berjalan di antara bintang-bintang,
sebelum kaki ini pandai memijak bumi.
Aku pernah menangis di tepi sungai,
sebelum mata ini celik melihat laut.
Aku pernah memanggil-Mu
dalam bahasa-bahasa aneh
dalam nama-nama yang tak kukenal.
Aku memungut serpihan cahaya
di lorong-lorong kelam,
dalam nama-nama yang tak kukenal.
Aku memungut serpihan cahaya
di lorong-lorong kelam,
mengubat luka di celahan malam.
Ketika mengutip bunga liar,
aku jatuh, aku bangun, aku tercalar
di situ aku belajar menari,
di situ aku belajar menari,
tarian abadi irama suciMu.
Aku sering didesak;
Aku sering didesak;
Dunia menarik aku dari gema bisikan halus
yang menjawab doaku
Dunia meyimbah airmata palsunya
ke atas bara yang Kau nyalakan
dalam dada ini.
Adakalanya,
di malam-malam tertentu,
ketika dunia tertidur
ketika dunia tertidur
dan hanya bintang-bintang bernafas,
aku terdengar kembali bisikan itu:
“Pulanglah, kekasihku.
Aku di sini, di balik segala rindu dan kehilangan.”
Dan aku bangkit, berjalan lagi
Aku tak pernah sendirian.
Aku tak pernah sesat.
Aku sedang kembali,
ke pangkuan Cinta
aku terdengar kembali bisikan itu:
“Pulanglah, kekasihku.
Aku di sini, di balik segala rindu dan kehilangan.”
Dan aku bangkit, berjalan lagi
dengan tapak kaki berdarah,
bersama mata yang basah,
memujuk hati yang kini tahu:
bersama mata yang basah,
memujuk hati yang kini tahu:
Aku tak pernah sendirian.
Aku tak pernah sesat.
Aku sedang kembali,
ke pangkuan Cinta
pertama dan terakhir.

Your thoughts mean so much and help me improve my writing. If you enjoyed the post, I’d love to hear more from you— your ideas make this space more engaging for everyone. Thank you for commenting. Let’s keep the conversation going!