Memuatkan resonansi…

Tidur


Masuk hari yang ke dua puluh satu
tidur malamnya bertukar siang
siang jadi malam,
malam bertambah kelam.
Tak ada cahaya,
dia meraba dalam gelap.

Di antara asap berkepul,
deruman keretapi, lagu kuil
loceng gereja dan azan masjid
kaki melangkah tak tentu arah
mencari arah, tanpa diarah.

Tidurnya bukan untuk bermimpi
Tidurnya menunggu hari.
Tidur bertilamkan bangku
berselimut kain rindu berwarna putih 
Putih. Macam salju.
Macam awan. Macam susu.
Not every reader is chosen to share:

The Endless Resonance

Struggling with something? Let Us Know
Comments

Comments [0]