Suatu Ketika

Ray FL
0


H(caps)atiku menangis saat aku menceritakan kisah cinta yang terpendam dalam-dalam. Kepergian seorang kekasih telah mengoyakkan jiwa halusku. Membunuh impian yang hancur dan hati yang lebur.

Suatu ketika, cinta mekar mengharum bagaikan bunga. Entah bagaimana, tangan kejam takdir mencabutnya pada saat yang tak mungkin akan bersedia. Dingin, kaku, tiada yang mampu menghentikan. Sentuhan kematian pasti terjadi, meninggalkan  kehampaan dan sakit yang berpanjangan.

Ingatan melekat kuat, seperti tancapan bintang di suram dada malam. Rindu melongsorkan aku di balik pelangi kenangan. Tangis tawa yang kita kongsi, dihiasi sentuhanmu yang tak pernah sejuk, kini digantikan bisik angin.

Betapa aku merindukan kehadiranmu. Untuk merasakan kehangatanmu lagi   Untuk memperbaiki jiwaku yang terkoyak. Untuk mengutuhkan semangatku yang telah rosak. Namun sayang sekali, kau telah melewati ambang batas yang tidak terlihatkan. Tinggal lah aku menghadapi dunia ini sendirian.

Dalam cengkaman duka, air mataku mengalir deras. Meratapi cinta yang tak pernah bisa kulepas. Namun, dalam kabur, secercah harapan muncul. Aku akur, sesungguhnya cinta itu melampaui kematian. Lalu kubiarkan ia menakluk ketakutanku.

Akan kusimpan kenanganmu erat-erat. Jiwa ini mengerti bahawa esensi cinta kita takkan memalap. Meski jasadmu tiada, namun semangatmu tetap hidup. Di lubuk hatiku yang terdalam, kau bersemadi tenang dalam diam.

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)

#buttons=(Accept!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Now
Ok, Go it!