SETITIS RASA DARI SYURGA


Remaja, zaman pergolakan, transisi, orientasi dari satu alam ke alam yang lain. Setiap manusia, sedar atau tidak, mahu atau tidak, tak akan terlepas dari menjejak kaki di platform ini. Jangkauan, kedudukan, skop, lingkungan, selalu menjadi alasan ke mana dan di mana perjalanan itu bermula dan berakhir. Ada jiwa yang tua di waktu mudanya, ada jiwa yang muda dan tetap muda, ada pula yang yang tak mahu peduli tentang kewujudan jiwa itu sendiri.

Menjadi seorang introvert bukanlah satu pilihan apalagi sesuatu yang direkacipta oleh minda yang terkeliru mahupun dorongan untuk muncul sebagai individu tertentu, jauh sekali untuk mencari perhatian demi merealisasi impian semu. Hipokrasi tak pernah terwujud dalam kamus seorang dia. Malangnya, itulah yang sekeliling tafsirkan tanpa mengevaluasi halaman demi halaman, melulu interpretasi, mengabai realitas dan bukti, menyingkir mantiki, akur pada penafian integrasi tanpa menghargai kearifan rasional. 


Redup mengelilingi relung hati sewaktu resah mengusir kedamaian dari jiwa. Dia, aku, kamu, dan mereka, umum dalam beda. Namun, syukur, lingkungan di mana aku tidur dan jaga, berdiri, duduk, merangkak, berjalan, berlari, menangis dan tertawa telah melentur hati untuk bertakafur, menikmati apa yang aku pijak sedang kepala mendongak menginsafi apa yang jauh dari jangkauan mata. Hati, tanpa paksa terbuka menerima dan memberi, tergoda untuk menggeledah setiap ruang sempit agar kewujudannya tak disalah erti. Diri diacar untuk mengisi lapangan, agar tidak tersepit diperbatasan yang luas, agar terorganisir tiap fragment yang bertelingkah antara sesama.

Dia mengimbas sejenak serpihan-serpihan memori yang membawa senyum dibibirnya, mafhum terhadap kejahilan, serentak itu dia menghembus nafas lega atas keutuhan jati diri. Terpantul syukur dari bibir yang hening dari kata-kata itu, bersinar lantaran kemengertian tanpa seorang pun yang mengerti. 
Lalu resolusi pun terhasil, setelah berjaya menawan provokasi serta ilusi yang berhasrat untuk memisahkan realiti dari materi.

Hanya beberapa kerdipan, tak lama, tidak pula terlalu meremas, kedewasaan mematangkan suara hati dan ia bukan lancung, tidak juga sama sekali mengakali. Redup yang mengepung relung hati bila gundah cuba untuk menguasai intelek, berganjak dari posisi lamanya.

Di situ mereka menikmati setitis rasa dari syurga, seterusnya mewajibkan diri untuk mengaitkan titik-titik itu untuk melebarkan sinar di segenap penjuru dan ruang, memekatkan kalimah sempurna yang tercetus dari kewarasan.


SETITIS RASA DARI SYURGA SETITIS RASA DARI SYURGA Reviewed by Annie Ray Yusoff on Thursday, December 24, 2015 Rating: 5
Powered by Blogger.